Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » 196 Warga Kutim Positif Mengidap HIV/AIDS, IRT Peringkat Ketiga

196 Warga Kutim Positif Mengidap HIV/AIDS, IRT Peringkat Ketiga

(1138 Views) Februari 1, 2016 8:45 am | Published by | 1 Comment

Sangatta. Penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Kutai Timur tak bisa dianggap remeh. Dari data yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur melalui hasil pendataan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kutai Timur, sejak tahun 2006 hingga 2015 lalu diketahui jumlah Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) hidup 196 orang dengan stadium HIV sebanyak 137 orang dan AIDS sebanyak 59 orang. sementara yang sudah meninggal dunia sebanyak 38 orang. Ironisnya, angka tertinggi pengidap HIV/AIDS berada di usia produktif yakni antara 21 tahun hingga 40 tahun. Sementara dari jenis kelamin, perempuan masih mendominasi dengan persentase 66 persen atau 129 orang sebagai pengidap HIV/AIDS dibandingkan jenis kelamin laki-laki dengan 34 pesen atau sebanyak 67 orang.

Dari data tersebut juga diketahui bahwa Kecamatan Sangatta Utara masih menduduki tempat tertinggi dalam sebaran ODHA dengan 62 orang, disusul Muara Wahau sebanyak 26 orang dan Sangatta Selatan 25 orang. Sedangkan jika dilihat dari status dan profesi, selain Wanita Penjaja Seks (WPS) yang menduduki peringkat pertama dengan 38,3 persen sebagai pengidap HIV/AIDS, Karyawan Swasta menempati peringkat kedua dengan 21 persen dan Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 18,4 persen beradaz di peringkat ketiga. Sedangkan pengidap HIV/AIDS yang berstatus menikah mencapai 75 persen dibanding yang belum menikah sebanyak 25 persen.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur dr Aisyah, dengan ditutupnya lokalisasi memang diakui penyebaran HIV/AIDS dikhawatirkan akan semakin sporadis dan tak kasat mata. Hal ini karena para wanita penjaja seks (WPS) yang biasanya bermukim di lokalisasi dan masih bisa terdata, kini menyebar dan sulit terlacak keberadaanya. Dikhawatirkan tumbuhnya tempat-tempat prostitusi liar dan terselubung, yang menyebabkan penyebaran HIV/AIDS ini menjadi tidak terkendali.

Dikatakan Aisyah, jika dulu Dinas Kesehatan bersama KPA Kutim melakukan melakukan sistem jemput bola dengan datang langsung mendata dan melakukan vaksinasi kepada para WPS ini di lokalisasi, namun dengan telah ditutupnya lokalisasi maka hal tersebut otomatis tidak lagi dilakukan. Kini pihaknya hanya menyiapkan klinik VCT yang ditempatkan di beberapa Puskesmas di Kutim, sebagai tempat konsultasi, pemberian obat dan vaksin bagi mereka yang diketahui positif HIV/AIDS. Sedangkan bagi para ODHA, mereka lebih aktif melakukan konseling sebaya kepada orang-orang yang dianggap beresiko tinggi tertular HIV/AIDS. Seperti para pengguna narkoba, penyuka tato dan sebagainya. Sementara upaya tes VCT kepada karyawan perusahaan dan PNS juga semakin gencar dilakukan mengingat tingginya resiko infeksi dan penularan HIV/AIDS di kalangan mereka, yang bisa ditularkan kepada istri di rumah.

(voice)

Lebih jauh dikatakan Aisyah, dengan besarnya persentase pengidap HIV/AIDS dari golongan ibu rumah tangga (IRT) maka saat ini Dinas Kesehatan dan KPA lebih berkonsentrasi kepada upaya pencegahan penularan HIV/AIDS kepada bayi. Jika pada orang dewasa, upaya pencegahan dilakukan dengan scerening darah sebelum dilakukan transfusi, maka jika diketahui ada ibu mengandung yang positif mengidap HIV/AIDS, maka perlu dilakukan perlakuan khusus dalam proses persalinannya. Dengan dilakukan operasi ceasar dan tidak memberikan ASI kepada si bayi atau hanya memberikan susu formula. Hal ini diharapkan sang bayi tidak tertular HIV/AIDS.

Print Friendly, PDF & Email
0 0 votes
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 Comment
Most Voted
Newest Oldest
Inline Feedbacks
View all comments