Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » 7 Desa di Kutim Masuk Zona Merah Rawan Malaria

7 Desa di Kutim Masuk Zona Merah Rawan Malaria

(462 Views) Maret 24, 2016 9:24 am | Published by | No comment

Sangatta. Walaupun secara keseluruhan Kabupaten Kutai Timur kini sudah termasuk daerah yang rendah kejadian (low incident) malaria dan masuk kategori pra eliminasi malaria, namun ternyata masih ada 7 Desa dan 3 Kecamatan di Kutim yang termasuk dalam kategori daerah yang tinggi kasus penularan malaria (high case insiden).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim dr Aisyah didampingi Kabid P2PL Muhammad Yusuf, dalam pertemuan percepatan eliminasi malaria Kabupaten Kutai Timur, pagi tadi, mengatakan saat ini masih ada 7 desa di Kutim yang masuk dalam zona merah penularan Malaria. Ketujuh desa ini yakni, Desa Susuk Luar dan Susuk Dalam, Desa Tanjung Mangkalihat, Desa Benua Harapan, Desa Mugi Rahayu, Desa Rimba Lesatari dan Desa Long Nyelong. Sementara itu masih ada 18 desa lagi di Kutim yang masuk dalam kategori sedang (middle) untuk kasus penyebaran malaria.

Walaupun secara keseluruhan, Kutai Timur angka API (Annual Parasite Insidence) kurang dari 1 atau saat ini sudah berada di posisi 0,4 namun beberapa desa ini angka API masih di posisi 1,5 sehingga perlu dilakukan tindakan strategis. Terlebih target Pemerintah agar Kutim masuk dalam daerah eliminasi malaria tahun 2018.

 (Voice : Dinkes Yusuf – Malaria)

Sementara itu, Kasi P2M Dinkes Provinsi Kaltim Nurhasanah, mengatakan Intensifikasi malaria di provinsi Kaltim bukan cuma di Kutim, namun di semua wilayah yang masuk dalam zona merah (high case insiden). Semetara Kutim sudah masuk dalam kategori Pra Eliminasi. Saat ini tinggal bagaimana upaya yang dilakukan Dinkes Kutim agar desa yang masuk kategori merah bisa berubah menjadi zona kuning hingga zona hijau. Upaya untuk menekan penularan nyamuk Anopeles ini, dilakukan dengan mengendalikan perkembangbiakan jentik nyamuk. Walaupun diakui selama masih ada tempat perkembangbiakan, jentik nyamuk tentu tidak bisa diberantas.

Selain menyediakan bantuan logistik berupa kelambu, juga pemerintah pusat, provinsi dan daerah juga mengajak masyarakat dan pihak swasta melakukan beberapa cara pemberantasan dan pencegahan penyebaran nyamuk malaria. Yakni fisik, berupa gotong royong, cara kimia dengan melakukan penyemprotan yang disebut indoor residual spray dan terakhir cara biologi, yakni memanfaatkan ekosistem pemangsa nyamuk dan jentik berupa memelihara ikan kepala timah, ikan cupang, ikan mas gupi,  serta menciptakan sifat dasar nyamuk yakni bersifat zoofilt atau penghisap darah hewan dan bukan manusia.

Print Friendly, PDF & Email
0 0 vote
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments