Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Digaji Kecil, Dokter Tak Minati Kutim

Digaji Kecil, Dokter Tak Minati Kutim

(2857 Views) Januari 27, 2016 9:36 am | Published by | No comment

Sangatta. Luasnya wilayah Kutai Timur ternyata tidak ditunjang dengan ketersediaan tenaga dokter. Kutai Timur terdiri dari 18 Kecamatan dan 133 Desa dan 2 Kelurahan ini memiliki 56 orang dokter. Sementara jumlah Puskesmas yang tersebar di 18 Kecamatan hanya 21 Puskesmas. Belum lagi dengan rencana beroperasinya Rumah Sakit Pratama di Kecamatan Sangkulirang, yang tentu membutuhkan tenaga madis dan dokter yang tidak sedikit. Namun ternyata kekurangan tenaga dokter ini karena standar penggajian oleh pemerintah daerah yang dianggap sangat kecil. Sehingga para dokter muda enggan mengabdi di daerah ini. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, dr Aisyah.

Kepada awak media, dirinya menuturkan bahwa selayaknya 1 Puskesmas memiliki 2 dokter umum dan satu dokter gigi. Jika melihat jumlah puskesmas yang ada di Kutim, maka hingga saat ini Kutai Timur masih memerlukan 63 tenaga dokter. Sementara jumlah dokter PNS dan tenaga Honorer Pusat (PTT) di Kutim hanya 56 dokter yang tersebar di Puskesmas dan RSUD. Bahkan ada salah satu Puskesmas, yakni Puskesmas di Kecamatan Teluk Pandan, hingga kini belum memiliki tenaga dokter.

Lanjut Aisyah, memang saat ini kebutuhan dokter khususnya di daerah pelosok Kutim seperti Kecamatan Busang, masih terbantu oleh tenaga dokter PTT Pusat. Walaupun hingga kini jumlah dokter PTT Pusat yang sebelumnya 4 orang kini hanya tinggal 3 orang, yakni 1 dokter umum dan 2 dokter gigi. Sementara 1 dokter umum PTT mengundurkan diri dan lebih memilih bekerja sebagai dokter swasta.

Hingga saat ini Pemerintah daerah membuka seluas-luasnya peluang bagi dokter yang ingin mengabdi di Kutim dan diangkat menjadi dokter kontrak daerah (TK2D). Namun kebanyakan dokter yang datang melamar kerja kemudian mundur atau menolak menjadi dokter TK2D. Hal ini karena kecilnya gaji yang mereka terima per bulannya. Untuk dokter TK2D di kota hanya dijagi Rp 1,4 juta sesuai standar gaji tenaga TK2D Sarjana. Sedangkan jika di daerah pelosok, dokter hanya digaji Rp 2 juta per bulan.

Nilai ini sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan gaji seorang dokter Honor Pusat (PTT) yang digaji Rp 5 juta per bulan untuk wilayah kota. Sedangkan di daerah pelosok, dokter PTT Pusat bisa menerima gaji hingga Rp 9 juta per bulan. Walaupun tingginya gaji dokter PTT Pusat, tetap saja ada yang mengundurkan diri dan memilih menjadi dokter swasta karena menerima gaji Rp 300 ribu perhari atau Rp 9 juta per bulan. Belum lagi ditambah penghasilan praktek luar

Lebih jauh dikatakan Aisyah, permasalah kekurangan dokter in harus segera dicarikan solusi. Diirnya sudah pernah meminta kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) melalui Bappeda agar ada pembedaan dalam penggajian khusus dokter. Tetapi karena terbentur anggaran yang terbatas maka tidak bisa dilakukan. Padahal seharusnya penggajian dokter TK2D harus minimal harus disamakan dengan dokter PTT Pusat.

(voice)

Print Friendly, PDF & Email
0 0 vote
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments