Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Gandeng STIPER Sangatta, Pemkab Kutim Kelola Penjernih Air dari Biji Buah Kelor

Gandeng STIPER Sangatta, Pemkab Kutim Kelola Penjernih Air dari Biji Buah Kelor

(477 Views) September 1, 2016 10:09 am | Published by | No comment

Sangatta. Kalimantan sebagai daerah yang dikenal memiliki kandungan unsur besi yang tinggi pada tanahnya, tentu sangat berimbas pada tingginya unsur keasaman tanah dan air. Akibat tingginya unsur keasaman tanah dan air ini maka tentu kualitas air yang ada cukup jauh dari standar bahan baku sebagai air minum. Sementara jika tetap ingin digunakan, maka perlu pengelolaan air dengan menggunakan penjernih kimia. Untuk itu, menggandeng Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Sangatta, Pemerintah Kutim kini tengah mendalami sistem pengelolaan air bersih dengan menggunakan biji buah kelor atau jarak sebagai pengikat unsur besi dan menetralkan keasaman air.

Direktur Stiper Sangatta Profesor Juremi Sugeri didampingi Dani Afrianto yang merupakan dosen Program Studi Teknik Pertanian, mengatakan untuk mengatasi tingginya kadar keasaman air tanah yang ada di wilayah Kutai Timur, Stiper Sangatta telah berhasil membuat terobosan teknik penjernih air dengan memanfaatkan biji buah kelor atau jarak sebagai pengikat unsur besi yang terkandung di dalam air tanah. Penelitian ini telah dilakukan selama setahun belakangan ini dengan didukung Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kutim. Saat ini produk penjernih air ini rencananya akan digunakan di salah satu embung yang ada di Desa Benua Ulu Kecamatan Sangkulirang.

Diterangkan Dani, dalam aplikasinya pemanfaatan biji buah kelor yang telah disangrai ternyata sangat ampuh sebagai pengikat kandungan besi yang terkandung di dalam air tanah. Cukup dengan merendamkan biji kelor yang telah disangrai tersebut selama 15 menit di dalam wadah penampungan air, kemudian air yang ada dialirkan dengan disaring terlebih dahulu menggunakan arang tempurung kelapa sebagai karbon aktif dan pasir sebagai filternya. Alhasil, air yang dikelola bisa langsung digunakan sebagai bahan baku air minum dan tinggal ditambahkan sedikit disinfektan sebagai pembunuh kuman.

Lebih jauh Dani mengatakan bahwa, untuk pembangunan pengelolaan air bersih menggunakan biji buah kelor ini memerlukan biaya sebesar Rp 150 juta untuk menaranya. Sementara peralatan penjernih memerlukan biaya sebesar Rp 4 juta per unitnya dengan kapasitas pengolahan air mencapai 31 kubik air per harinya. Dengan nilai pengeluaran sebesar ini masih dianggap murah dan ramah lingkungan karena menggunakan buah kelor yang alami sehingga tanpa menggunakan zat kimia, serta berjangka waktu yang sangat panjang. Bahkan bisa diaplikasikan sebagai penjernih air berskala rumah tangga. Selain itu masyarakat juga bisa menanam pohon kelor di sekitar embung untuk mendapatkan biji buah kelor. Sementara, aplikasi penjernih air ini selain dilakukan di embung Desa Benua Baru Ulu Kecamatan Sangkulirang, juga rencanaya akan diaplikasikan di Kecamatan Teluk Pandan dan Kecamatan Kaubun, yang memang memiliki kualitas air bersih yang rendah.

(Voice : Stiper Dani – Penjernih Air Buah Kelor)

Print Friendly, PDF & Email
0 0 vote
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments