Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Kasus Anak Tinggi, Kajari Sangatta Minta Orang Tua Beri Perhatian Lebih pada Anak

Kasus Anak Tinggi, Kajari Sangatta Minta Orang Tua Beri Perhatian Lebih pada Anak

(470 Views) Februari 14, 2016 10:08 pm | Published by | No comment

Sangatta. Tingginya kasus yang menjerat anak hingga berhadapan dengan hukum di Kutai Timur, sangat membuat prihatin semua kalangan. Kejaksaan Negeri (Kejari) Sangatta, selaku bagian dari penegak hukum yang menangani penyelesaian kasus ini mengungkapkan bahwa pada tahun 2015 lalu, total ada sebanyak 26 kasus yang melibatkan anak berhadapan dengan hukum (ABH). Anak yang terlibat dalam tindak pidana umum lain (TPUL), seperti kasus narkoba ada sebanyak 6 anak. Sedangkan anak yang terlibat OHARDA, seperti pencurian, penganiayaan, penipuan, melibatkan 20 anak. Dua kasus anak berhasil dilakukan diversi. Sementara pada tahun 2016 ini, hingga bulan Pebruari sudah ada 4 kasus anak yang ditangani karena kasus pencurian.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sangatta Tety Syam didampingi Kasi Pidana Umum (Pidum) Amanda, mengatakan bahwa sebagai penegak hukum pihaknya sangat miris jika melihat tingginya kasus yang melibatkan anak berhadapan dengan hukum. Belum lagi jika melihat jumlah kasus pelecehan terhadap anak. Hingga Pebruari tahun ini ada 4 kasus pelecahan dan persetubuhan terhadap anak yang sedang ditangani Kejari Sangatta, dan kebanyakan tersangkanya melibatkan orang terdekat di lingkungan anak tersebut. Mulai ayah kandung, kakek kandung, ayah tiri, termasuk guru di sekolah. Khusus untuk kasus pelecehan dan persetubuhan anak yang melibatkan orang terdekat ini, menjadi atensi khusus bagi dirinya untuk memberikan tuntutan hukum maksimal.

Ditambahkan Amanda, perlunya perhatian dan pengawasan lebih dari orang tua terhadap perilaku dan pergaulan anak.  Pengawasan dari keluarga terdekat terutama orang tua memang perlu lebih ditingkatkan. Hal ini karena melihat kondisi yang terjadi, ternyata pelecahan terkadang juga bisa dilakukan keluarga terdekat anak. Selain itu, penanaman pengetahuan agama juga perlu ditingkatkan kepada anak. Sehingga diharapkan anak tidak terlibat dalam pergaulan dan perilaku menyimpang, yang bisa menjerumuskan anak ke lingkungan pergaulan yang salah. Seperti geng motor atau pencurian yang melibatkan anak hanya untuk pengakuan status pertemanan mereka supaya dikatakan berani.

(voice)

Lebih jauh dikatakan Amanda, walaupun saat ini negara memberikan perhatian lebih terhadap kasus anak yang berhadapan dengan hukum sesuai undang-undang peradilan anak, bahwa bagi anak yang berhadapan dengan hukum diberikan putusan atau vonis hukuman separuh dari terpidana dewasa. Bagi tersangka anak yang berumur di bawah 13 tahun tidak boleh dilakukan penahanan, baik itu kurungan penjara maupun tahanan rumah namun dititipkan di panti sosial. Sementara jika berumur di atas 14 tahun hingga 17 tahun maka bisa dilakukan penahanan, tetapi dibedakan dengan ruang tahan orang dewasa. Sedangkan jika tuntutan hukuman yang dikenakan di bawah 7 tahun, bisa dilakukan diversi kepada tersangka anak tersebut sesuai mekanisme yang berlaku. Namun jika anak ini tetap mengulangi perbuatan pidana kembali atau kambuhan maka bagi tersangka anak yang sebelumnya sudah pernah dilakukan diversi, maka proses diversi tidak dapat dilakukan kembali kepada tersangka anak ini dan tetap akan menjalani proses sesuai hukum yang berlaku.

—————–

Print Friendly, PDF & Email
0 0 vote
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments