Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Awas, DBD Masih Jadi Ancaman di Tahun Ini

Awas, DBD Masih Jadi Ancaman di Tahun Ini

(454 Views) Mei 21, 2016 9:10 am | Published by | No comment

Sangatta. Demam berdarah dengue (DBD) tahun ini ternyata masih menjadi ancaman bagi masyarakat Kutai Timur. Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, untuk tahun 2016 hingga bulan April ini saja sudah terjadi 1053 kasus DBD. Padahal selama tahun 2015 hanya terjadi 654 kasus DBD. Atau bisa dikatakan, tahun ini sudah terjadi lonjakan kasus hampir 95 persen dalam kasus DBD jika dibandingkan tahun lalu, walaupun baru diawal tahun.

Kepala Dinkes Kutim dr Aisyah didampingi Kabid P2PL Muhammad Yusuf, mengatakan walaupun pada tahun ini secara jumlah kasus DBD di setiap kecamatan terjadi penurunan, namun tidak signifikan. Malahan kasus DBD menyebar hampir merata di seluruh Kecamatan di Kutim. Beberapa kecamatan yang pada tahun lalu tidak pernah ditemukan adanya kasus DBD, pada tahun ini sudah ada laporan masuknya ke Dinkes Kutim. Seperti Kecamatan Sandaran yang pada tahun lalu nihil DBD, kini ada walaupun hanya 2 kasus DBD. Sementara yang masih nihil kasus DBD ada di Kecamatan Long Mesangat, Muara Ancalong dan Busang. Pihaknya memprediksi sebenarnya ada kasus DBD tetapi tidak terlaporkan ke Puskesmas setempat.

Saat ini, Provinsi Kaltim sudah masuk dalam zona merah dan peringkat kedua se-Indonesia dalam kasus DBD, dibawah Provinsi Bali. Sementara Kutai Timur sendiri dalam kasus DBD menduduki peringkat pertama se-Kaltim secara angka absolut (angka kasus), dan berada di peringkat kedua jika berdasarkan insiden ret (angka penderita) DBD.

Lanjut Yusuf, upaya yang bisa dilakukan saat ini adalah bagaimana masyarakat mau sadar dan mengubah pola hidup mereka dengan cara melakukan pencegahan terhadap penularan DBD itu sendiri. Seharusnya masyarakat tidak hanya mengharapkan dilakukannya foging jika ditemukan adanya kasus DBD di lingkungan mereka. Karena foging bukanlah solusi utama dalam penangan DBD. Namun yang terpenting bagaimana masyarakat mampu menjadi kader jumatik untuk keluarganya sendiri, yang bisa mencegah hidup dan berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk aides agepty yang nantinya berkembang biak menjadi nyamuk demam berdarah. Tentu dengan menerapkan pola hidup sehat, bersih-bersih lingkungan dan melakukan 3M plus.

Selain itu, belajar dari Kabupaten Bulungan yang berpredikat zero DBD, saat ini Dinkes Kutim tengah mengupayakan bagaimana pemerintah Kutim memiliki regulasi agar masyarakat wajib dilibatkan dalam penanganan jentik nyamuk. Seperti membuat Peraturan Bupati (Perbup) atau bahkan peraturan daerah (Perda) penanganan. Karena jika hanya berharap dari keaktifan kader jumantik yang pernah dibentuk pemerintah seperti tahun-tahun sebelumnya selalu berakhir pada kendala anggaran. Terlebih saat ini ada instruksi dari Mentrian Kesehatan (Menkes) RI, agar ada 1 kader jumantik di setiap rumah. Atau bisa dikatakan pemilik rumah tersebutlah secara sadar menjadi kader jumatik bagi keluarganya sendiri. Selain itu pola pendekatan kepada masyarakat umur sekolah atau anak-anak sekolah dengan menjadikan mereka relawan jumantik. Karena belajar dari kasus DBD yang banyak diderita oleh masyarakat umur sekolah. Hal ini dinilai lebih produktif jika dibandingkan jika harus menyiapkan anggaran Rp 800 juta per tahunnya hanya untuk membayar gaji kader jumantik.

(Voice : Dinkes Yusuf – DBD)

Print Friendly, PDF & Email
0 0 vote
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments