Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DI KUTAI TIMUR (Pendekatan berbasis Koperasi bagian 2)

PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DI KUTAI TIMUR (Pendekatan berbasis Koperasi bagian 2)

(2507 Views) April 29, 2017 8:51 am | Published by | No comment

 

Pariwisata mempunyai peran yang sangat potensial dan strategis dalam pembangunan daerah. Industri Pariwisata merupakan sektor ekonomi yang ramah lingkungan dan dapat memberdayakan masyarakat lokal. Pengembangannya dapat berfungsi sebagai pendekatan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan sebagai penyeimbang ekonomi daerah Industri. Pariwisata terbukti mampu menjadi sektor ekonomi unggulan di beberapa daerah di Indonesia seperti Bali dan Yogyakarta, dimana pariwisata di daerah tersebut mampu menggerakan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja, perluasan peluang usaha dan memberikan sumbangan terhadap pendapatan asli daerah sampai devisa negara. Kegiatan pariwisata telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya kunjungan wisatawan maupun perkembangan obyek wisata. Secara global, setiap tahun terjadi peningkatan kunjungan wisatawan, karena kegiatan wisata bukan hanya sekedar untuk mencari kesenangan namun telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat dalam aktivitas hidupnya.

Kabupaten Kutai Timur memiliki banyak potensi pariwisata yang tersebar di beberapa kecamatan antara lain adalah wisata alam, wisata penelitian, wisata budaya, wisata tambang dan agrowisata. Objek wisata yang sudah cukup dikenal salah satunya adalah Wehea dan Gua Stalaktit (Gunung Kombeng) yang terdapat di Kecamatan Muara Wahau dan Kombeng. Pengembangan objek pariwisata di Kecamatan Muara Wahau dan Gunung Kombeng dapat menjadi salah satu komoditi ekonomi yang menjanjikan dan berprospek apabila didukung oleh penyediaan komponen wisata dalam pengembangannya. Namun demikian, objek wisata tersebut belum dikelola secara formal dan profesional. Apabila fungsi ini ditangani secara profesional akan menjadi instrumen utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat lokal dan secara umum memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) serta mampu memberikan multiplier effect bagi perkembangan sektor-sektor yang lainnya

Studi Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Pariwisata Terintegrasi menjadi penting karena belum ada perencanaan dan kebijakan dalam pengembangan pariwisata secara terintegrasi dan komprehenship, sehingga menjadi perlu agar dapat disusun secepatnya kebijakan pengembangan pariwisata terintegrasi. Berkaitan dengan itu, untuk meningkatkan peran sektor pariwisata dalam perekonomian masyarakat lokal dan PAD Kabupaten Kutai Timur secara umum maka pengelolaan terhadap objek-objek wisata perlu ditingkatkan, dan untuk itu perlu ada kajian mendalam untuk mengidentifikasi objek wisata maupun masalah yang dihadapi dalam menarik minat pengunjung.

Semua daya pesona itu tentu tidak dapat begitu saja memberi nilai tambah bila kemudian tidak diiringi dengan usaha menggugah minat pasar untuk mengunjungi serta menikmati berbagai objek wisata serta hasil industri kreatif yang ada. Di antara usaha untuk menarik minat pasar itu adalah adanya inisiatif dari industri pariwisata secara periodik dan berkelanjutan untuk mengadakan “Visit Kutai Timur Years” (Tahun Kunjungan Wisata) atau pameran kreativitas industri dan karya anak bangsa dari berbagai daerah dengan memperkenalkan dan mempromosikannya ke berbagai negara di dunia.Untuk membangun daya saing ini di antaranya harus memiliki pengembangan terhadap bagaimana agar objek-objek wisata yang ada atau yang akan dikembangkan, terjamin keamanannya dan terpelihara kebersihannya serta sangat peduli terhadap lingkungan hidup, seperti gerakan penghijauan perkotaan dengan alokasi hutan-hutan perkotaan dan taman-taman rekreasi yang sekaligusmenjagakesegarandankenyamananperkotaan.

 

BEBERAPA POTENSI WISATA DI KUTAI TIMUR

Kawasan lindung dan budidaya di Kabupaten Kutai Timur memiliki keragaman daya tarik wisata. Kekayaan alam yang berupa hutan, gunung, gua dan pantai merupakan aset berharga dan potensial untuk dikembangkan. Dengan kondisi alam hutan yang masih alami, kawasan lindung di Kabupaten Kutai Timur menawarkan ragam produk wisata alam. Selain itu, keanekaragaman budaya yang khas di Kutai Timur juga menjadi daya tarik wisata. Namun, sebagian besar potensi wisata tersebut belum dikelola dengan baik sehingga belum memberikan manfaat dari segi ekonomi, baik untuk masyarakat lokal maupun daerah Kutai Timur.

Beberapa destinasi wisata di Kabupaten Kutai Timur diantaranya:

  1. Wisata pantai : lokasi pada berbagai pantai di Zona Sangatta.
  2. Wisata alam : lokasi karts Sangkulirang, Gua Pangadan, Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung Wehea, dll.
  3. Wisata bahari : lokasi Pulau Birah-Birahan.
  4. Wisata budaya : lokasi desa adat Wehea dan Desa adat Miau Baru

Pengembangan produk wisata alam memiliki peluang yang cukup besar karena objek wisata yang ada memiliki keunikan yang tidak ditemui ditempat lain. Apalagi saat ini sudah ada wisatawan mancanegara yang mengunjungi daerah tersebut.

Kegiatan dibidang pariwisata sampai saat ini masih bersifat kompleks-dinamis dan berpeluang sebagai sumber pendapatan dengan diikuti pengembangan kawasan wisata yang mencakup integrasi semua komponennya beserta faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata. Komponen pariwisata tersebut, akan menjawab syarat suatu daerah tujuan wisata yang memiliki something to see, something buy and something to do,sehingga perkembangan pariwisata suatu daerah sangat dipengaruhi oleh tingkat penyediaan komponen-komponen pariwisata.

 

Hutan Lindung Wehea

Potensi

1) Desa Nehas Liah Bing merupakan desa tertua diantara lima desa komunitas dayak di Muara Wahau.

2) Merupakan Hutan lindung yang sudah diakui oleh dunia dan merupakan Taman Nasional yang menempati urutan ke-tiga dalam hal strategi pengelolaan yang menggunakan hukum adat sebagai dasarnya

3) Hutan lindung Wehea masih alami dan masih menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung karena pada Hutan Lindung ini terdapat berbagai jenis satwa liar antara lain, 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, 12 hewan pengerat, sembilan jenis primata dan 59 jenis pohon bernilai ekonomi (sumber dari TNC/The Nature Conservancy)

4) Terdapat air terjun adan didaerah Span dan masih dapat melihat pohon ulin besar dengan diameter 2 m yang berusia ratusan tahun

5) Terdapat 4 jalur trek ekowisata yang menjanjikan petualangan alam di hutan yang masih murni bagi wisatawan maupun pencinta wisata alam

6) Terdapat fasilitas akomodasi penginapan dan lokasi berkemah.

7) Terdapat fasilitas komunikasi jarak jauh berupa radio serta telepon satelit yang disediakan oleh pihak pengelola Hutan Lindung Wehea.

8) Sejak akhir 2004, Masyarakat Wehea menjadikan kawasan Wehea sebagai kawasan perlindungan habitat orang utan yang dilindungi oleh hukum adat Wehea. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang mana diperkirakan ada 700-an lebih orang utan yang hidup di hutan Wahea.

 

Permasalahan

 1) Begitu pengunjung memasuki wilayah hutan, sinyal telepon genggam tidak akan bisa ditangkap sama sekali di Hutan Wehea ini.

2) Terbatasnya kebutuhan listrik dari pukul 6 sore hingga 2 dini hari, oleh generator listrik.

3) Akses untuk menuju destinasi ini sangat jauh dari Pusat Muara Wahau apalagi dari Sangatta, Apalagi transportasi yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam Hutan tersebut perlu menggunakan mobil “double gardan” agar dapat tembus masuk ke dalam.

4) Semakin banyak wisatawan yang masuk, tingkat keamanan dan kelestarian lingkungan akan menjadi ancaman.

 

Gua Gunung Kongbeng

 Potensi

1) Sebuah gunung batu Karst yang dikelilingi oleh hutan Gambut, semak belukar, pephonan dan perkebunan kelapa sawit.

2) Banyak terdapat pintu-pintu Goha ini ada yang terletak di kaki gunung yang dihiasi dengan batu-batu Stalaktit dan Stalakmit

3) Banyak terdapat arca-arca peninggalan kerajaan Mulawarman yang dibawa oleh penganut agama Hindu

4) Merupakan kategori wisata sejarah yakni peninggalan sejarah dari masa kerajaan Kutai.

 

Permasalahan

 1) Belum terkelolanya dengan baik, karena destinasi wisata yang mempunyai nilai sejarah ini tidak dilengkapi dengan bahan informasi yang baik dan lengkap

2) Tidak tersedianya guide lokal sebagai penunjuk jalan maupun pemberi sumber informasi detail kepada wisatawan.

3) Banyaknya pengunjung yang tidak menyadari akan potensi destinasi wisata ini, sehingga kebanyakan pengunjung yang datang, merusak atau mencoret-coret dinding gua dengan nama maupun identitas mereka, sehingga menjadi kotor dan terkesan sangat tidak terawat.

 

Lom Plai

Potensi

1) Merupakan tradisi dan seni tradisional masyarakat Dayak Wehea yang masih terpelihara dengan baik

2) Lom Plai merupakan bentuk upacara yang ditujukan untuk menunjukan rasa syukur kepada tuhan YME atas hasil panen yang berhasil, dengan berlatar belakang cerita Mitos sebagai awal mula dari upacara ini.

3) Tradisi adat yang senantiasa dilakukan secara rutin setiap tahun, yakni pada bulan April.

 Permasalahan

1) Belum mempunyai waktu yang pasti dalam pelaksanaan penyelenggaraannya, sehingga tidak bisa dimasukan dalam kalender event tetap oleh pemerintah setempat, akibatnya dalam mempromosikan event tersebut wisatawan tidak dapat membuat perencanaan kunjungan yang pasti ke daerah tersebut.

2) Tradisi Lom Plai diselenggarakan di bulan April, namun belum ada tanggal yang pasti (senantiasa berubah setiap tahun) mengikuti perhitungan kalender sebagai hari yang baik dalam penyelenggaraan, akibatnya tidak bisa dilakukan promosi akibat tidak ada tanggal pasti penyelenggaraan.

Pesta Akhir Tahun dan Perayaan Syukuran Natal di desa Miau Baru

Potensi

1) Merupakan tradisi dan seni budaya masyarakat Dayak di Desa Miau yang dilaksanakan secara rutin setiap akhir tahun yang bertepatan dengan perayaan Natal dan pergantian tahun baru.

2) Pesta syukuran ini merupakan bentuk upacara yang ditujukan untuk menunjukan rasa keakraban dan kesatuan warga masyarakat adat dayak di antara warga desa Miau Baru.

3) Tradisi adat yang senantiasa dilakukan secara rutin setiap akhir tahun yakni pada bulan Desember hingga awal Januari tahun berikutnya dengan pendanaan dari swadaya masyarakat serta bantuan dari berbagai sponsor.

4) Bandara Uyang Lahay yang sudah dibuka aksesnya dengan Rute Samarinda – Muara Wahau PP dan Balikpapan – Muara Wahau PP

5) Masih bisa ditemukan wanita bertelinga panjang

6) Rumah Adat Lamin sebagai pusat acara kegiatan masyarakat masih terpelihara dengan baik.

7) Mempunyai 7 sanggar tari yang sudah terbina dengan baik.

8) Telah terjadi kesepakatan dikenal dengan kesepakatan MALINDO yakni mempersatukan dua etnis dayak dari Sarawak Malaysia dengan yang ada di Desa Miau Baru, karena berasal dari satu rumpun dan satu keturunan.

Permasalahan

1) Keterbatasan masalah anggaran dana dalam penyelenggaraan menyebabkan tidak maksimalnya acara yang disajikan setiap tahun.

2) Promosi informasi event yang kurang sehingga kegiatan tersebut hanya dikonsumsi oleh warga Muara Wahau & Kongbeng dan sebagian kecamatan di sekitarnya, walaupun ada juga dari luar Kecamatan namun tidak banyak.

3) Kapasitas pesawat dan kualitas Bandara Uyang Lahay yang masih terbatas

4) Belum ada regenerasi telinga panjang yang mau meneruskan tradisi ini.

 

Wisata Hutan Pendidikan Sungai Seleq

Potensi

1) Merupakan lokasi wisata edukasi satu-satunya yang ada di daerah Kecamatan Muara Wahau dan sekitarnya yang dipadukan dengan sumber daya hutan yang haknya dimiliki oleh perusahaan PT. Gunung Gajah abadi.

2) Sudah memiliki fasilitas yang memadai sebagai sebuah destinasi wisata seperti, Areal tempat duduk, lokasi berdagang yang tertata, kamar mandi bilas dan toilet, lahan parkir yang cukup luas.

3) Tersedianya perlengkapan outbound baik bagi anak-anak pelajar sekolah maupun dewasa bagi para pegawai dan karyawan kantor.

4) Sudah banyak lembaga, para pelajar maupun organisasi sosial lainnya yang memanfaatkan destinasi wisata ini sebagai tujuan utama dalam pelaksanaan event mereka.

Permasalahan

1) Strategi Promosi yang masih minim, alat promosi yang digunakan hanya selebaran kertas saja yang ditempel pada tempat-tempat strategis saja, belum maksimal ke media massa maupun cetak dan elektronik.

2) Tingkat kunjungan wisatawan senantiasa meningkat, terutama di hari-hari libur, namun kesiapan petugas belum maksimal dalam melayani peningkatan kunjungan wisatawan tersebut.

3) Pihak manajemen PT. Gunung Gajah senantiasa menambahkan anggaran untuk melengkapi fasilitas yang ada, namun perlunya pengelolaan yang lebih baik agar dapat memberikan dampak yang positif kepada warga masyarakat.

4) Bahwa Lokasi destinasi wisata yang dibangun ini ternyata masuk dalam Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah yang peruntukkannya adalah untuk APL (areal Penggunaan Lain) perkebunan oleh perusahaan PT. NAS, bukan untuk wilayah destinasi pariwisata, walaupun RTRW tersebut belum disahkan namun pihak PT. Gunung Gajah mengharapkan kepastian agar bisa dengan leluasa mengembangkan destinasi wisata ini.

 

KOPERASI SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI

Koperasi merupakan salah satu pilar perekonomian negara sedangkan pariwisata merupakan industri yang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi nasional. Beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata membuat kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan devisa.

contoh model pengelolaan wisata oleh koperasi

Pelaku usaha mikro di daerah wisata sebaiknya berbadan hukum koperasi. Koperasi harus dikembangkan dan diseimbangkan dengan human capacity building, perlu adanya peningkatan pemahaman masyarakat apa itu koperasi. Untuk itu perlu dilakukan pertemuan, adakan penyuluhan, dan memberi edukasi kepada masyarakat untuk menyadarkan masyarakat tentang manfaat koperasi juga hak dan kewajiban mereka dalam berkoperasi. Informasikan kepada masyarakat bahwa koperasi adalah milik bersama, bukan milik pengurus. Jadi kalau koperasi mengalami keuntungan otomatis semua anggotanya juga menikmati keuntungan.

Koperasi sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki satu tujuan untuk meningkatkan skala ekonomi menjadi pilihan menarik untuk dijadikan media pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif.Dengan pembantukan koperasi orang-orang yang ada dalam ruang lingkup objek wisata tersebut akan berusaha bersama-sama untuk saling menolong dirinya.

Pengelola objek wisata akan bersatu bersama-sama pedagang dan semua komponen yang terlibat di objek wisata tersebut membuat diri mereka sejehtera bersama-sama. Di sinilah peran pemerintah harus turun tangan untuk memberikan fasilitas yang memadai pada sarana jualan atau etalase produk bagi mereka

Pembentukan koperasi yang melibatkan semua stakeholder yang ada di objek wisata itu menjadi sangat penting peranannya bagi kemajuan industri pariwisata dan ekomomi kreatif.Satu kata kuncinya dengan pembentukan koperasi diharapkan mereka yang ada di objek tersebut mampu meningkatkan harkat ekonominya, menciptakan citra daerah, menciptakan kesan marketing di benak pengunjung dan tentunya menjadi bola salju bagi pengembangan pariwisata dan produk kreatif secara bersama-sama dan pada akhirnya pendapatan daerah akan bertambah.
Penulis : Dr. Muslimin, M.Si

(Litbang Kutim/dosen STIE Sangatta)

 

 

Print Friendly, PDF & Email
0 0 vote
Article Rating
Categorised in:
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments